Renungan ini hanya sekedar pikiran liar saya saat berada di bis, jalan pulang menuju Jakarta setelah menculik istri. Semua orang yang hidup tentunya punya tujuan hidup, terlepas dari masalah akidah, pasti setiap orang berharap ingin mencapai titik tertentu dalam hidup. Dan sebagai seorang muslim, tujuan hidup saya adalah ingin memandang keindahan Wajah Allah subhaanahu wata’ala di surga bersama orang-orang yang saya cintai, aamiin… (kenikmatan paling besar di surga adalah memandang keindahan Allah azza wajalla).

Terkait dengan bis, saat itu adalah kali pertama ke Tangerang, sama sekali tidak terbayangkan rute detail jalannya. Sama juga dengan hidup, kita tidak tahu apa yang ada di depan kita, bahkan satu detik pun di depan kita, tidak ada yang tahu. Dan bis yang ditumpangi bisa kita ibaratkan sebagai perantara/jalan hidup sementara trayek akhir bis bisa diibaratkan sebagai akhir hidup kita. Sekali lagi, tentunya setiap orang berharap untuk berakhir di trayek tujuannya masing-masing bukan?

Sebelum naik bis, kita tentunya bertanya atau melihat tujuan akhir bis tersebut dan yakin bahwa bis tersebut akan menyampaikan kita kepada tujuan yang kita inginkan. Namun, saat di jalan pasti saja ada keraguan dan tanda tanya “apakah benar bis tersebut akan sampai di trayek akhir atau kita diturunkan sebelum sampai trayek akhir?” Dan keraguan tersebut bisa dihilangkan saat kita bertanya kepada kondekturnya-seseorang yang lebih tahu dengan rute bis tersebut.

Begitu pun dengan hidup, bertanya kepada ulama (bhs indonesianya:orang berilmu), akan menghilangkan keraguan. Tentunya orang berilmu yang tujuannya sama dengan kita, karena tidak mungkin kita bertanya kepada seorang pilot perihal rute bis bukan? Keduanya sama orang berilmu namun trayek tujuannya beda.

Jika di dunia, kita salah naik bis, tidak masalah kita turun dan naik bis yang sesuai tujuan. Begitu pun dalam hidup. Jika kita merasa salah atas apa yang kita yakini, segera cari jalan sesuai tujuan kita, bertanya kepada orang berilmu serta jujur, dan istiqomah, sabar di jalan tersebut. Namun, yang saya takutkan adalah: ….

Jika perihal jalan dunia, kita bisa ganti bis saat salah, bagaimana jika kita tidak sempat ganti bis? Artinya badan kita sudah menjadi mayat sebelum kembali ke jalan yang benar-benar akan mengantarkan kita kepada trayek tujuan kita?


Cerita tersebut adalah curhatan pribadi saya sendiri, yang sebelumnya hidup dalam kepercayaan-kepercayaan yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga dicontohkan pula oleh para keluarga dan sahabat beliau radiyallahu’anhum. Walhamdulillah, badan saya belum sempat menjadi mayat saat saya sadar bahwa sebagian apa yang saya yakini adalah salah. Semoga Allah subhanaahu wata’aala senantiasa memberikan hidayah, karena jika bukan atas izin-Nya, maka tidak akan sampai hidayah kepada kita semua. Wallahu'alam bisshawab (Allah Maha Mengetahu kebenaran).

Hoho udah lama banget gak update-update blog lagi. Alhamdulillah sekarang bisa nulis lagi menumpahkan ide-ide yang menumpuk sebelum beku atau bahkan hilang. Alhamdulillah pada 5 Oktober 2013, setelah melakukan persiapan yang sangat matang, akhirnya Allah mengijinkan saya untuk menculik istri tercinta di Tangerang. Tentunya persiapan dilakukan bersama istri (yang mau diculik juga ikutan siap-siap, benar-benar aneh wkwkwk).

Jadi istri saya kebagian shift kamis malam sampai jum’at pagi dan baru masuk lagi praktek sabtu siang. Alhamdulillah jum’at pagi saya meluncur dari Jakarta menuju Tangerang, lebih tepatnya menuju mess praktek istri a.k.a. tkp. Setelah bertemu, operasi pun dijalankan dan berhasil menculik istri untuk dibawa ke kostan hehe. Saat itu kali pertama istri melihat kostan.

Benar saja seperti dugaan awal, banyak hal yang harus dibenahi terkait kondisi kost-kostan. Alhamdulillah sekarang ada yang merhatiin hehe, dulu mah kalo kostan yang penting bersih dan nyaman. Sekarang setelah ada istri ada tambahan lagi yaitu teratur, kalau bisa harum hehe. Maksudnya teratur adalah terkait dengan tata letak barang-barang. Kalo saya pribadi, keep it simple as simplest as possible. Buat sederhana sesederhana mungkin. Alasan utamanya adalah saat pindahan nanti gak terlalu banyak barang yang dibawa.

Setelah negosiasi perihal aksesoris kostan, akhirnya dicapai kesepakatan antara saya dan istri khususnya masalah barang-barang yang harus diadakan dan ditiadakan *bahasanya kayak detektip aja -__-“ wkwkwk. Malam sabtunya, saya pun mengajak istri ke masjid blok m untuk sholat isya, dimana dulu sebelum nikah punya cita-cita ingin mengajak istri untuk sholat di sana, Alhamdulillah tercapai :D. Dan tidak lupa shopping setelah sholat isya di salah satu tempat pembelanjaan di sana T_T.

Dulu kalo mau belanja, saya sudah bikin listnya dan tinggal ambil ini itu, selesai. Lima menit bisa selesai. Sekarang ternyata beda haha, pergi ke sini liat dulu, pergi ke sana liat dulu. Alhamdulillah meski jadi lebih lama belanjanya, tetapi jadinya lebih seru soalnya jadi banyak bercandanya pas milih-milih barang itu hehe.


Waktu pun terasa sangat cepat saat kami berdua. Gelap berganti terang, tirai langit pun terbuka sedikit demi sedikit sampai biru dan awan putih menghiasinya. Dan minggu pagi menjelang siang, kami berdua pulang kembali ke Tangerang. Menanti hari kapan kami bisa bersua lagi. Semoga kami berdua dipertemukan kembali di tempat abadi nan indah atas izin Allah subhanaahu wata’ala, aamiin… Tentunya kebahagiaan yang kami rasakan, khususnya saya, tidak terlepas dari do’a orang tua. Semoga Allah subhaanahu wata’ala mengumpulkan kami beserta keluarga kelak di syurga-Nya, aamiin…

Alhamdulillah, meski telat nulisnya hehe – harusnya 7 Oktober 2013 – tidak terasa sudah satu bulan saya dan istri membina rumah tangga. Dan Alhamdulillah, sangat terasa perbedaan yang mencolok buat saya terutama berkaitan dengan masalah hati – ketenangan. Jika dibandingkan dengan saat saya masih single (bahasa gaulnya jomblo :p), ketenangan hati yang didapat jauh banget.

Dulu sekali, rasanya kalo ada sesuatu itu gampang seradak seruduk, tanpa pikir panjang. Terus gampang melow, gak gampang siy tapi gampang banget -__-“. Gampang galau juga. Pokoknya suasana hatinya sama kayak harga rupiah terhadap dolar, naik turunnya drastis, eh kebanyakan naiknya denk – bergejolak maksudnya.

Kalo sekarang, terus terang saya ngerasa lebih adem, kalem dan suasana hatinya seperti pergerakan harga emas – relatif stabil. Walhamdulillah juga diberikan kesempatan oleh Allah subhaanahu wata’ala untuk mengecap kesempurnaan kedua orang tua. Maksudnya orang tua dari istri dan orang tua saya pribadi masih lengkap, Alhamdulillah. Do’a dari orang tua sendiri saja sudah wah, ditambah do’a orang tua dari istri, wah + wah =  wah wah hehe. Benar-benar beruntung seorang anak yang kedua orang tuanya masih ada… Jadi jangan sampai disia-siakan untuk meminta do’a dari beliau.

Selanjutnya, dalam sebulan ini Alhamdulillah kami sudah bisa mengenal satu sama lain, dan yakin akan banyak sekali kejutan-kejutan membahagiakan lain di depan nanti, insyaAllah. Meski demikian, semua yang kita alami baik itu kesulitan dan kebahagiaan, semua adalah ujian dari Allah, dan kebanyakan manusia lalai saat diuji dengan kebahagiaan. Semoga kita semua tidak termasuk diantara mereka, aamiin…


Waduh jadi kemana-mana ini ceritanya. Pokoknya nantikan edisi bulan kedua ya :p. 

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang Maha Sempurna dengan segala Rencana-Nya. Alhamdulillah kita panjatkan juga karena kita telah mendapatkan bonus keislaman saat lahir sehingga lebih mudah menerima hidayah Islam sesuai tuntunan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Semoga kita semua dipertemukan kembali bersama beliau, keluarga dan sahabatnya, orang-orang shalih dan para nabi sebelum beliau. Tiada illah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan kecuali Allah subhanaahu wa ta’ala semata serta sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam.

Rasa syahdu, bahagia dan setengah rasa tidak percaya berkumpul pada hari itu. Hari dimana seorang wanita dihalalkan untuk pria dengan kalimat Allah, hari dimana setengah agama seseorang terpenuhi karenanya, dan hari dimana tanggung jawab seorang wanita beralih dari kedua orangtuanya kepada seorang pria. Pernikahan.

Alhamdulillah setelah pertama kali dipertemukan, kurang dari tiga bulan, disertai komitmen dari orang tua calon istri (saat itu), do’a, dukungan, dari semua orang yang tak bisa disebutkan saking banyaknya – semoga Allah mencatat kebaikan Anda semua, aamiin…, akhirnya pada 2 Dzulqa’dah 1434 H atau bertepatan dengan 7 September 2013, akad sekaligus walimah antara saya dengan calon istri (saat itu) pun selesai dilaksanakan.

Masih sekitar Maret 2013, saya masih dirundung gelisah, siapa kiranya yang akan menjadi calon pendamping seumur hidup saya, aamiin. Terlebih kalau mengingat cita-cita sejak masa kuliah, saya ingin sekali menikah saat usia 25 tahun, ingin mencontoh Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Meski jika dihitung dengan menggunakan kalender Hijriyah pernikahan saya jatuh saat usia saya 26 tahun, Alhamdulillah tidak jauh dari keinginan awal, yakni 25 tahun.

Saat akad dibacakan, sensasi hati yang terasa itu benar-benar beda. Tegang campur bahagia entah campur apalagi, pokoknya beda aja. Beberapa kali merasakan tegang saat akan melakukan presentasi kelulusan maupun presentasi ilmiah, tapi saat akad sensasi tegangnya beda. Alhamdulillah pengucapan akad pun lancar dengan satu kali bacaan, meskipun saat selesai pernikahan, ayah saya bilang bahwa ada yang kurang yakni melafalkan kata “rupiah”, tapi oleh saksi langsung dibilang “Sah!”. Alhamdulillah hehe…

Selesai akad, istri saya pun dipanggil oleh amil dan saat itu pula saya melihat betapa cantiknya dan lembutnya tangan istri. Itulah pertama kali saya memegang tangannya, setelah akad terucap, Alhamdulillah. Rasanya benar-benar kayak mimpi, setengah gak percaya, saat bergandeng tangan berdua dengannya di pelaminan menyambut para tamu yang datang memberikan do’a dan ucapan selamat.

Alhamdulillah, nikmat nikah tanpa pacaran memang luar biasa. Saya bukan orang yang tidak pernah pacaran, Alhamdulillah setelah berusaha mencari kebenaran dan Allah memberikan hidayah, maka jalan menuju pacaran ditutup rapat-rapat dan usaha serta niat untuk menikah dilaksanakan. Kepada yang terlanjur pacaran, ingatlah bahwa pintu maaf Allah sangatlah luas selama nyawa belum sampai kerongkongan. Segera putuskan, bertaubat dan berusaha untuk menikah.

Ingat, pernikahan adalah ibadah (bahkan dalam salah satu riwayat, sholat malam orang yang menikah lebih utama dari orang yang lajang), sedangkan pacaran adalah perbuatan dosa. Jadi bagaimana mungkin ibadah diiringi perbuatan dosa? Tidak ada manusia yang dijaga dari dosa kecuali Muhammad Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, sekali lagi jika terlanjur pacaran, segera putuskan dan bertaubat. Bukankah Allah Maha Penerima Taubat?


Gak apa-apa ya keluar dari cerita sedikit hehe. Intinya Alhamdulillah saat ini saya sudah memiliki istri dan berharap semoga kami dikumpulkan bersama keluarga, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya, orang-orang shalih dan para nabi sebelum beliau.

Alhamdulillah akhirnya bisa nulis lagi hohoho. Kali ini ingin bercerita tentang saat-saat lamaran saya kepada istri tercinta. Ahhey istri, Alhamdulillah sudah menyempurnakan setengah agama :D. Lamaran atau proses khitbah yang dilakukan yaitu dengan mempertemukan keluarga saya dan keluarga calon istri (saat itu) dan tujuannya yaitu untuk melamar. Hehe namanya kan melamar ya untuk melamar pasti nya ya :p.

Proses lamaran dilaksanakan pada 4 Syawal 1434 H atau bertepatan dengan 11 Agustus 2013. Saya dan keluarga berangkat dari Sukabumi jam 3-an dini hari, menjemput keluarga dari Cianjur kemudian langsung meluncur menggunakan jalur Cipanas. Karena sebelum masuk jalur puncak sudah macet merayap, kami pun putar arah masuk ke jalur Cikalong, Cianjur.

Setelah melewati jalan berkelok-kelok dan bebatuan (jalannya di pinggir tebing), akhirnya beberapa orang personel tumbang, maksudnya mabok hehe. Adik-adik saya diantaranya Najiah, Hilman dan Jandan mabok kendaraan seketika setelah melewati jalan liku-liku dan berbatu. Singkat kata, sampailah kami di jalan Jonggol dan sarapan di sana dengan bekal nasi yang telah dibungkus tentunya hehe. Oiya, selain membawa keluarga, saat itu hadir pula bintang tamu, seorang teman dari Aceh yang bernama Harapan. Panjang kalo diceritakan bagaimana kita bertemu haha *hadeuh takut istri cemburu haha.

Panjang kata, kami pun sampai di tol dalam kota sementara beberapa personel lunglai seperti tak sadarkan diri karena mabok kendaraan kelas berat. Kemudian masuk tol Jakarta-Merak dan kami beristirahat di Rest Area setelah gerbang tol Cikupa. Rasanya gimana gitu pas ngeliat adik-adik yang mabok kendaraan, gak kebayang aja rasa  betapa tersiksanya di jalan. Kemudian sampailah kami di dekat rumah calon istri.

Tadinya ingin ke masjid agung untuk istirahat sebentar, cuci muka dan ganti baju, tapi waktu itu takut macet, Alhamdulillah akhirnya istirahat di masjid Kranggot (sekarang baru diketahui ternyata rumah tetangga di Warudoyong yang baru menikah di Cilegon, rumahnya deket masjid itu juga). Setelah bersih diri, sholat dzuhur, kami pun meluncur ke rumah calon istri (saat itu).

Saat lamaran, perasaan gak percaya masih ada. Maksudnya rasanya gak percaya aja tiba-tiba udah lamaran aja, baru aja ketemu padahal. Saat diterima di rumah, pertama kali melihat calon istri mengenakan gamis putih, rasanya wow banget pokoknya. Tapi saat itu saya gak berani menyatakan atau sekedar berkata “kamu cantik” dlsb, gak berani aja karena belum halal. Oiya juga, saat lamaran saya pakai sandal T_T, soalnya dulu pas nganter teman lamaran rasanya ybs pakai sandal juga (baru diketahui ternyata ybs pakai sepatu) wkwkwk. Selesai lamaran saya bilang ke calon istri, “maaf ya tadi pakai sandal” (saat itu) dan istri pun bilang “iya gpp.” Udah gitu pas masuk ke rumah saya gendong adik yang paling kecil, jadi pas salaman dengan orang-orang yang menyambut, saya malah gendong adik hehe.

Akhir kata, Alhamdulillah proses lamaran berlangsung dengan lancar djaya. Rombongan keluarga saya pulang kembali ke Sukabumi dan Cianjur sementara saya dan Harapan pulang ke Jakarta bersama kakaknya calon istri (saat itu). Hm… gak bisa diungkapkan pokoknya betapa anggunnya calon istri saya saat itu, hanya bisa berdo’a semoga dilancarkan semuanya mulai dari pernikahan sampai setelah pernikahan.

Saya bingung mau ngasih judulnya, karena ceritanya terjadi di atas motor makanya dikasih judul seperti itu hehe. Ceritanya terjadi saat saya dibonceng Satori menuju Terminal Cilegon. Waktu itu ngobrol-ngobrol seputar tips mencari pasangan, lebih spesifiknya istri yang sholeha. Karena saya bawel, pas orang lagi nyetir motor pun dikhotbahi T_T. Cerita singkatnya kayak gini,

Pokoknya Tor, untuk mencari pasangan hidup itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan wasiat kepada para pria yang ingin menikahi perempuan. Pada dasarnya perempuan itu dinikahi karena 4 hal, yakni kecantikannya, keturunannya, hartanya dan agamanya. Jika ingin beruntung, pilihlah agamanya. Pertanyaannya adalah bagaimana cara melihat agamanya, kenal saja belum lama atau ketemu saja jarang sekali?

Untuk melihat agama seorang perempuan, cukuplah dengan melihat cara dia menutup auratnya, aka berpakaian. Saat seorang wanita menutup aurat dengan baik sesuai syar'i (berhijab dengan tidak menunjukkan lekuk tubuh, ingat ya, lekuk tubuh), InsyaAllah agamanya baik. Ternyata, cara menutup aurat ini tidak hanya menunjukkan agamanya saja, melainkan hartanya juga.

Ketaatan seorang hamba kepada Allah tergantung dari apa yang dia makan. Jika yang dia makan baik, halal, insyaAllah baik pula lah ahlaknya. Yang ditekankan adalah kualitas harta, kehalalalan, bukan kuantitas.

Beberapa bulan yang lalu, saat mengikuti kajian pekanan, salah seorang penceramah bercerita tentang seorang syekh dari Arab Saudi yang berkunjung ke Indonesia untuk memberikan materi. Di bandara, beliau diberikan makanan ayam goreng cepat saji. Kemudian beliau pun sholat mengimami orang-orang yang mengantarkan beliau. Setelah sholat, beliau bertanya, "Makanan apa yang kau berikan kepadaku tadi? Hafalanku menjadi kacau." Akhirnya yang mengantarkan menjelaskan bahwa makanan yang diberikan adalah ayam goreng salah satu fast food yang sudah diketahui dan berlabel halal. Namun meski sudah mendapatkan sertifikasi halal, proses pemotongan ayam selanjutnya tidak tahu lagi.

Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya apa yang dia makan terhadap seseorang. Jika yang dia makan baik, insyaAllah akan baik pula orang tersebut, begitu pun sebaliknya. Cerita di motornya sudah sampai disini, namun saya baru sadar sekarang (saat nulis) kenapa bisa ada hubungannya dengan harta. Harta yang dimaksud ternyata bukan hanya dari segi kuantitas, melainkan kualitasnya juga. Dan kualitas harta (kehalalalan) tidak bisa terlihat jelas, hanya bisa terlihat setelah harta itu dimakan, dan visualisasi kualitas harta dapat dilihat dari orang yang memakannya.

Kemudian keturunannya. Sudah jelas, jika seseorang memiliki peringai yang baik, maka keluarganya pun tidak akan jauh dari demikian. Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. Imam Syafi'i lahir dari seorang wanita yang terjaga dan laki-laki yang sangat jujur. Meskipun banyak kita dapati bahkan di Al Qur'an, anak Nabi Nuh meninggal dalam keadaan kafir, istri Nabi Luth pun demikian dan paman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Thalib, meninggal dalam keadaan kafir. Namun perlu diingat bahwa hal tersebut menunjukkan bahwa garis keturunan (nasab) tidak menjadi jaminan diberikannya Rahmat Allah Subhanaahu wa ta'ala. Kembali lagi, jika seseorang berperingai baik, insyaAllah keluarganya pun demikian.

Agama, harta, keturunan, dan terakhir adalah kecantikannya. Ada beberapa makna dari cantik, tergantung dari siapa yang memberikan pendapat. Buat saya, kecantikan seorang perempuan mampu menenangkan hati, membuat saya tersenyum setiap saat melihatnya dan menggetarkan jiwa dan bikin klepek-klepek (hehe bahasanya ampun dj...). Khusus menggetarkan jiwa, saya biasanya suka gimana gitu kalo melihat perempuan yang menutup auratnya dengan baik hehe.

Sebelum beralih kepada kesimpulan, saya ingin menyampaikan definisi beruntung. Apa itu beruntung? Secara logika, beruntung itu kita berharap mendapatkatkan sesuatu misal 100rb, taunya dapetnya 500rb, sesuatu banget yang tidak disangka-sangka, itu beruntung.

Jadi, kesimpulannya adalah saat seorang laki-laki memilih seorang perempuan karena agamanya, maka dia akan beruntung dan pasti beruntung (wajib beriman kepada hadits-hadits shohih). Karena saat seorang laki-laki memilih agamanya, maka ketiga hal yang lain yakni harta, keturunan dan kecantikannya insyaAllah akan baik pula. Dan karena pernikahan itu suatu ibadah, maka prosesnya pun harus dijaga sebisa mungkin agar tidak terkotori oleh hal-hal buruk. Tidak ada ibadah lain yang bisa menggenapkan agama selain pernikahan, oleh karena itu syetan akan sangat gigih menggoda agar prosesnya terkotori. Logikanya, untuk sholat saja harus berwudhu (bersuci), bagaimana jadinya jika sebelum sholat malah kotor-kotoran hehe.

Dan berikut adalah hadits yang dimaksud....

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dan kebenaran datannya dari Allah semata, kesalahan dari pribadi dan syetan, والله أعلمُ بالـصـواب (dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya).

الحمد لله ربّ العالمين

Saat hati ini berharap cemas memohon kepada Allah, siapakah gerangan seseorang
Seseorang yang akan mengisi kosongnya hati
Seseorang yang akan menggenapkan ruang sela antarjemari
Seseorang yang akan meneduhkan jiwa dengan ahlaknya

Alhamdulillah, saat itu adalah salah satu jawaban dari do'a kegelisahan hamba-Nya
Saatku dipertemukan dengan seorang wanita, yang kepadanya mata ini tak sanggup memandang lama
Bercuri-curi pandang meyakinkan, inikah gerangan seseorang
Seseorang yang kupinta selalu dalam do'a meski jiwa ini malu pada-Nya

Tak berapa lama, entah kenapa hati ini cenderung padanya
Mungkin dia tak sempurna, namun tak kutemukan wanita sesempurna dirinya
Saat itulah hati ini yakin, dialah jawaban dari do'a yang kupanjat pada-Nya

Kian hari makin mantap hati ini untuk bersamanya
Menjalin kisah kasih dalam ikatan yang Allah Ridhoi
Semoga dimudahkan selalu sampai akad tiba
Dan Allah menjadikan dirimu sebagai pengasuh anak-anak yang takwa pada-Nya
Dan Allah menjadikan dirimu sebagai ratu bidadari syurga nan jelita...

-teruntuk, seseorang



Sebelumnya alhamdulillah kemarin 13 Juni 2013, ibu saya menikah lagi, semoga pernikahan beliau diberkahi dunia dan akhirat, aamiin. Jika dibandingkan dengan ayah kandung, ayah saya yang baru lebih berusia, jadi insyaAllah lebih bijak dan lebih tenang saat saya jauh dari rumah.

Berita kedua, tidak jauh dari hari pernikahan ibu, minggu 16 juni saya meluncur kembali ke jakarta. Namun kali ini beda. Selain menjenguk istri senior di perusahaan lama (satu kampuang juga hehe), kali ini adalah jadwal dimana saya dipertemukan dengan seseorang.

Okay, sebelum cerita kesana, saat usia saya memasuki 25 tahun (sebetulnya hampir 26 jika dihitung dengan penanggalan hijriyah), saya merasa semakin cemas karena sejak dulu saya menuliskan mimpi, berniat ingin menikah di usia 25 tahun atau di tahun 2013. Temen-temen yang kenal saya udah bilang aja, “ini udah tengah tahun lho rin...”. Intinya saya tidak ingin menunda-nunda menikah.

Meskipun secara persiapan finansial belum cukup siap, insyaAllah jika tekadnya untuk beribadah akan Allah mudahkan. Dan juga, seperti orang-orang bilang bahwa pasangan adalah cerminan diri, jika ingin mendapat pasangan yang baik, maka perbaiki diri. InsyaAllah, saat kita ingin mencari pasangan hidup, maka sibukkanlah dengan memperbaiki diri, bukan sibuk mencari apalagi menjajaki (maksudnya pacaran hehe). The past is the past, i’ve been through that dirty track and i don’t wanna go back. For sure.

Berbekal kedua alasan itu, bahwa menikah adalah ibadah (serta saya sudah siap secara mental) dan jatuh cinta haruslah dibangun dalam ikatan pernikahan, alhamdulillah niat saya semakin bulat untuk menikah. Beberapa senior dan teman saya hubungi, meminta kira-kira siapa perempuan yang akan menjadi pasangan hidup, tapi dari beberapa calon, tidak ada kecenderungan satu pun, hingga akhirnya...

Saat sampai di jakarta, agak deg-degan juga akan bertemu dengan siapa sebetulnya. Waktu itu saya sampe rumah sakit jam setengah 10-an dan baru mendekati dzuhur, akhirnya tamu yang ditunggu pun datang hehe. Alhamdulillah saat sekilas pertama ketemu, saya udah klepek-klepek (haha aslinya, meskipun diluar menampakkan tegar). Dan alhamdulillah juga, rasa kecenderungan, tertarik pun muncul setelahnya.

Yang membuat saya klepek-klepek adalah cara dia berpakaian. Seperti diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan para lelaki yang hendak menikah, bahwa perempuan dinikahi karena 4 hal: kecantikan, keturunan, harta dan agama. Dan beliau mewasiatkan untuk memilih agama jika ingin beruntung di dunia dan akhirat. Dan sudah sangat jelas bahwa salah satu cara melihat agama seorang perempuan adalah dengan melihat cara dia berpakaian. Jika dia bisa menjaga auratnya berarti dia telah paham bahwa kehidupan di dunia hanyalah jalan sementara untuk kehidupan kekal di akhirat kelak. To be sad or to be happy in the eternity.

Lanjut lagi, alhamdulillah setelah bertemu beberapa saat, hati ini sudah mantap. She is the one. Esok hari kemudian setelah mendapatkan kabar baik bahwa dia pun mantap dengan saya, akhirnya kita tukeran cv untuk mengetahui informasi umum. Sehari kemudian, Selasa 18 juni, kami saling menerima cv dan alhamdulillah semakin mantap. Selanjutnya langsung mengatur jadwal untuk memperkenalkan diri. Alhamdulillah Sabtu 22 Juni saya memperkenalkan diri dan langsung keluar perkiraan jadwal untuk lamaran serta akad dan walimah.

Pulang dari rumah orang tua calon,  saya bertemu dengan seorang teman dekat yang kerja di kota tempat calon saya tinggal. Saya pun cerita panjang lebar (ya ampun, saya aslinya cerewet kalo udah cerita-cerita, apalagi cerita yang bikin seneng hehe). Namanya Satori, beberapa kali sudah saya tulis tentangnya di blog ini hehe.

Saya bilang ke dia, kalo saya serasa mimpi. Aslinya deh, cepet banget alhamdulillah... setelah cerita ini itu, saya kembali ke habitat asal dimana saya bekerja. Alhamdulillah sepanjang jalan s3, senyam senyum sendiri. Alhamdulillah orang tua di rumah pun senang mendengar kabar ini. Mohon do’anya semoga segala persiapannya dilancarkan dan pernikahannya berkah dunia akhirat, aamiin...

.
preload preload preload